Info Kajian Rutin Sekitar UNS
Dasar Hukum Islam yang Tidak Boleh Ditinggalkan
Kewajiban Bertauhid Dan Menjauhi KesyirikanAgama Ini Adalah anNashiihah
Info Kajian Rutin Sekitar UNS
SELASA Materi: Kitab Syarah Aqidah Al-Washitiyah Pemateri....More
As-Sunnah adalah Dasar Hukum Islam yang Tidak Boleh Ditinggalkan
perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan As-Sunnah di sini adalah setiap ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ,....More
Kewajiban Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan
Apa Tujuan Diciptakannya Jin Dan Manusia ? Banyak akal yang salah dalam menjawab pertanyaan ini ...More
Agama Ini Adalah anNashiihah
anNashiihah adalah lawan dari sikap khianat dan tipu daya. Kalau khianat dan tipu daya berarti ketidakcocokan ...More
Jumat, 01 Maret 2013
Selasa, 11 Desember 2012
Nasehat Syeikh Utsaimin untuk Para Dokter
1. mengikhlaskan niat dalam pekerjaan saudara
bukan bekerja untuk mendapatkan gaji atau upah (semata), penghormatan
dan lain2, tapi saudara bekerja untuk menghilangkan sakit dengan takdir Allah
melalui usaha saudara2. Dan dengan tujuan berbuat baik kepada orang2 yang
saudara2 obati. Dengan niat yang ikhlas inilah pekerjaan akan memberikan
hasil yang baik. Begitu pula sebaliknya
2. Bersungguh-sungguh untuk mengingatkan pasien untuk bertaubat, istighfar
dan memperbanyak dzikir, membaca alqu'an terlebih untuk mengucapkan dua kalimat,
yang telah disebutkan oleh nabi shallallahu'alaihi wa sallam: "ada dua kalimat
yang ringan (untuk diucapkan) di lidah, tapi berat timbangannya (di akhirat),
dan dicintai oleh ar rohman (yaitu) "Subhanallahi wabihamdih subhanallahil'adzim"
orang yang sakit tidak akan kesulitan untuk mengucapkan dua kalimat ini. Doronglah
dia untuk menggunakan waktu (dengan sebaik-baiknya).
3. Apabila telah ditakdirkan pasien anda menjemput ajalnya, maka kewajiban saudara
adalah mentalqinnya dengan kalimat syahadat laa ilaha illallah
karena Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Bimbinglah orang yang akan
meninggal di antara kalian (untuk mengucapkan) Laa ilaha illallah"
Tapi (yang perlu diperhatikan), hendaklah talqin itu dilakukan dengan lembut.
Apakah anda (harus) mengatakan kepadanya: wahai fulan (pak) ucapkanlah
Laa ilaha illallah karena (sebentar lagi) ajal akan menjemputmu!
jawablah wahai saudara-saudara!... Tidak,
jangan katakan seperti itu, karena barangkali kesusahan yang dia rasakan, (akan
menyebabkannya) mengatakan: "tidak mau"
mungkin cara yang baik (dalam mentalqin) adalah: Anda berdzikir di sampingnya,
Laa ilaaha illallah. Apabila anda berdzikir kepada Allah di sampingnya, niscaya
dia akan ingat (dan mengikuti).
Memang seandainya si pasien adalah orang kafir, maka anda katakan kepadanya:
katakanlah, Laa ilaaha illallah, karena nabi shallallahu'alaihi wa'ala ali wa sallam
berkata kepada pamannya -Abu Thalib- tatkala ajal menjemputnya:
"Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaha illallah, suatu kalimat yang akan
aku jadikan alasan (hujjah) untuk membelamu di hadapan Allah".
Rasulullah juga melakukan hal yang sama kepada seorang pemuda yahudi di Madinah.
Tatkala Nabi shallallahu'alaihi wa'ala ali wa sallam menengoknya saat ajal
menjemputnya, beliau menawarkan agama islam kepadanya, maka pemuda itu menoleh
kepada bapaknya, seakan-akan meminta ijin, maka bapaknya berkata: Taatilah
Abu Qosim (Nabi shallallahu'alaihi wa sallam)! akhirnya pemuda itupun masuk islam.
Maka Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:"Segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkannya dari neraka".
Lihat! Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam memuji Allah tatkala pemuda itu
berpindah dari agam Yahudi kepada Islam!
Selain itu anda juga tanyakan bagaimana shalatnya? Bersucinya?
Anda ajarkan pada dia sesuai dengan ilmu yang anda kuasai. Karena sebagian pasien tidak
bersuci sebagaimana mestinya. Karena sebagian pasien terdapat najis di pakaiannya
dan berkata, "apabila Allah sudah menyembuhkanku, maka (barulah) aku akan bersuci dan shalat!"
Sebagian pasien mengqashar shalat, padahal dia tinggal di kotanya!
Dia mengira bahwa apabila (seseorang) boleh menjamak, (maka) berarti (dia juga)
boleh mengqashar. Hal ini tidak benar!
Qashar hanya boleh dilakukan untuk siapa? untuk siapa? Untuk musafir saja!
Apabila si pasien adalah penduduk Riyadh (dan dia dirawat di Riyadh), kemudian
kita katakan kepadanya: "Anda boleh menjamak antara dua shalat apabila anda
merasa kesulitan untuk melakukan shalat pada waktunya masing-masing!"
Maka tidak boleh baginya untuk mengqashar!
Tapi seandainya pasien berasal dari kota lain dan dia berobat di Riyadh,
maka kita katakan kepadanya: "Silahkan qashar dan jamaklah (shalat anda)"
4. Apabila pasien adalah lawan jenis. Dalam arti, apabila tertuntut oleh keadaan
yang darurat, sehingga seorang dokter pria mengobati pasien wanita.
Waspadalah terhadap fitnah ini!
Maka jangan membuka bagian tubuhnya kecuali sesuai kebutuhan saja
dan dengan mengurangi obrolan-obrolan atau penanganan,
karena "syaitan berjalan dalam tubuh anak adam (di dalam) jalan darahnya."
Terkadang anda akan berkomentar dalam kondisi semacam ini:
"Tidak mungkin seseorang akan tergoda syahwatnya" atau komentar semisalnya.
maka kita jawab itu benar, itulah asalnya, tapi apa pendapat anda apabila
syaitan berjalan di dalam tubuh manusia (di dalam) peredaran darahnya?
"Bukankah mungkin sekali dia akan menyesatkan orang ini?"
jawabnya "ya, mungkin, mungkin sekali"
juga wasiat (pesan) saya kepada saudara-saudara...
untuk bersungguh-sungguh menghadapkan si pasien ke arah kiblat tatkala shalat,
semampu mungkin! Kalau perlu dengancara kita putar ranjangnya, jika
memungkinkan maka lakukanlah!
jika tidak mungkin katakan pada pasien anda: "Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu".
Allah Azza wa jalla berfirman:
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعُ عَلِيمُُ{115}
Artinya :”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)
juga Allah azza wa jalla berfirman :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..... (QS. Al-Baqarah:286)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)
anda tenangkan hatinya, dan katakan kepadanya:
"Apabila kebiasaanmu adalah shalat menghadap kiblat dan ini adalah kemyataan.
maka telah dituliskan bagimu pahala (menghadap kiblat) itu secara sempurna!"
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, (maka) dituliskan baginya
pahala amalan-amalan yang dia kerjakan tatkala dia sehat dan mukim".
Dan juga wasiat (pesan) untuk saudara-saudara:
untuk berwasiat/berpesan kepada para pasien apabila mereka (disatukan satu sama lain)
di dalam satu kamar. Saudara pesankan kepada mereka untuk tidak saling mengganggu satu
sama lain. Karena sebagian pasien terkadang mengganggu pasien lainnya,
terkadang dengan cara mendengarkan tape recorder ataupun radio, apabila perkara ini
memang dilarang maka barangkali saja dia mengganggu dengan bacaan AlQur'an, membaca AlQur'an dan
mengeraskan suaranya!
Nabi shallallahu'alaihi wa'ala ali wa sallam telah bersabda kepada sahabat-sahabatnya
yang sebagian mengeraskan bacaanya. Apa yang beliau ucapkan?
Beliau bersabda "Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dalam
membaca alQur'an."
saya juga berpesan kepada saudara saudara sekalian:
untuk tidak memperbanyak obrolan dengan perawat wanita,
kecuali sesuai dengan tingkat kedaruratan (kebutuhan) dengan berusaha menjaga
pandangan. Karena masalah ini sangat berbahaya. Terkadang obrolan-obrolan itu mendorong kepada
hal-hal yang lebih buruk lagi! Tapi apabila hal itu dibutuhkan (darurat), maka boleh dilakukan,
hanya saja tetap harus menjaga pandangan semampu mungkin.
saya juga berpesan kepada saudara-saudara:
untuk menjaga jam kerja (disiplin).
jangan sampai terlambat dari awal waktu kehadiran dan jangan keluar sebelum waktu keluar.
karena waktu ini bukanlah hak kalian! Jam kerja bukanlah hak dia,
karena dia telah mengambil upah dari jam kerjanya, setiap detiknya ada perhitungan
baginya dari upahnya!
maka tidak halal bagi seseorang untuk terlambat dari awal jam kehadiran dan tidak
boleh maju dari jam pulang, seseorang harus menunaikan amanahnya!
dan saya juga berpesan kepada saudara-saudara:
untuk beriman dan yakin bahwa usaha saudara-saudara ini hanyalah sekedar (menunaikan)
sebab, sedangkan keputusan (akhir) berada di tangan siapa?
Berada ditangan siapa?
Berada di tangan Allah'azza wajalla:
Terkadang, seseorang telah melakukan suatu sebab dengan sempurna, tapi tidak ada hasilnya, karena
keputusan (akhir) berada di tangan Allah.
oleh karena itu apabila seseorang mengutip hadits:
"jinten hitam (habbatussauda) adalah obat dari segala penyakit kecuali maut"
Maka (seakan-akan) konsekuensinya Tidak ada seorangpun akan sakit,
tidak seorangpun akan sakit.
Tapi (ketahuilah) bukan seperti itu keadaannya (kenyataannya).
Habbatussauda adalah suatu sebab (kesembuhan), hal ini tidak diragukan lagi!
Tapi sebab (sarana) ini terkadang tidak mendapatkan hasil karena adanya penghalang.
Maka meskipun anda adalah orang yang sangat teliti (pandai) dan ikhlas,
terkadang usaha anda tidak mendatangkan hasil sesuai dengan keinginan anda.
ketahuilah bahwa keputusan berada di tangan Allah.
saya berpesan kepada saudara-saudara: untuk mengucapkan basmalah ketika memulai
pengobatan dan operasi. Karena setiap perkara penting apabila tidak dimulai
dengan basmalah, maka perkara itu akan terputus berkahnya.
inilah yang bisa saya sampaikan,
mudah-mudahan Allah menjadikan pesan-pesan ini bermanfaat untuk saudara-saudara,
dan menjadikan amal-amal saudara sekalian ikhlas kepada Allah dan bermanfaat untuk para
hamba Allah'Azza wajalla.
ditulis kembali oleh abu abdillah romadhoni dalam video di youtube yang berjudul "dialog dokter bersama Syeikh Sholeh Uthaimin"
Minggu, 04 November 2012
Menahan Pandangan Mata
Katakanlah (wahai Nabi) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka….” (An-Nur: 30-31)
Ayat yang agung di atas mungkin sering terlewati begitu saja saat lisan ini bergerak membaca Kitabullah. Tidak hanya sekali atau dua kali. Bisa jadi kita telah puluhan kali membacanya namun karena diri kita kosong dari pengamalan atau barangkali karena tidak paham dengan apa yang kita baca, menjadikan kita belum mengamalkan ayat mulia di atas.
Alhasil, karena tidak ada pengamalan, pandangan mata ini tidak pernah kita jaga. Bahkan kita biarkan mata ini liar memandang apa saja yang dia inginkan tanpa ada rasa segan dan takut kepada Sang Penguasa langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dua mata yang merupakan nikmat Allah ini kita pakai untuk melihat yang haram, melihat laki-laki yang bukan mahram, melihat gambar-gambar yang mengumbar aurat, melihat ini dan itu. Wallahu al-musta’an (Allah sajalah yang dimintai pertolongan).
Al-Imam Ath-Thabari berkata dalam tafsirnya: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya, berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad : (Katakanlah kepada laki-laki yang beriman) kepada Allah I dan kepadamu, ya Muhammad (Hendaklah mereka menahan pandangan mata mereka). Allah I memerintahkan agar mereka menahan pandangan mereka dari apa yang ingin mereka lihat sementara hal tersebut termasuk terlarang untuk dipandang. (dan memelihara kemaluan mereka) untuk terlihat oleh orang yang tidak halal memandangnya dengan cara menutup kemaluan tersebut dengan pakaian yang dapat menutupinya dari pandangan mata mereka. (yang demikian itu lebih suci bagi mereka) Allah I menyatakan bahwa menahan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dipandang dan menjaga kemaluan dari terlihat oleh pandangan mata orang lain adalah lebih suci bagi mereka di sisi Allah I dan lebih utama….” Demikian pula yang Allah I perintahkan kepada kaum mukminat. (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, 9/302-303)
Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi t menyatakan memandang apa yang tidak dihalalkan secara syar’i dinamakan zina, sehingga haram memandang perkara tersebut. (Ahkamul Qur’an , 3/1366)
Rasulullah telah bersabda:
“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak mustahil. Kedua mata itu berzina dan zinanya dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)
Pernyataan Rasulullah bahwa zina mata dengan memandang kepada apa yang tidak halal merupakan dalil yang jelas tentang keharaman perkara tersebut, sekaligus peringatan dari hal tersebut. Telah dimaklumi bahwa pandangan mata merupakan penyebab jatuhnya seseorang kepada perbuatan zina. Karena lelaki yang banyak memandang kecantikan seorang wanita terkadang menjadi faktor yang menyebabkan ia jatuh cinta kepada si wanita sehingga ia binasa karenanya. Maka pandangan adalah pos pengantar kepada zina.
Berkata Muslim ibnul Walid Al-Anshari:
Aku peroleh untuk hatiku satu pandangan yang menyenangkan mataku
Namun ternyata pandangan itu menjadi kesengsaraan dan bencana bagiku
Tidaklah berlalu padaku sesuatu yang lebih berbahaya daripada hawa nafsu
Maha Suci lagi Maha Tinggi Dzat yang telah menciptakan hawa nafsu
(Adhwa`ul Bayan, Al-Imam Asy-Syinqithi t, 6/191)
Sebagaimana tidak halal bagi lelaki memandang kepada seorang wanita (ajnabiyyah/ non mahram), demikian pula wanita tidak halal memandang seorang lelaki. Karena keterkaitan lelaki dengan wanita sama dengan keterkaitan wanita dengan lelaki, keinginan/ tujuan lelaki terhadap wanita sama dengan keinginan/ tujuan wanita terhadap lelaki. (Ahkamul Qur’an , 3/1367)
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Makna dari hadits di atas (hadits Abu Hurairah) adalah anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina, maka di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram (bukan pasangan yang sah, pent.).
Dan di antara mereka ada yang zinanya majazi dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan hal-hal yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau untuk melihat zina atau untuk menyentuh wanita non mahram atau untuk melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita non mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya.
Maka semuanya ini termasuk zina yang majazi. Sementara kemaluannya membenarkan semua itu atau mendustakannya, maknanya terkadang ia merealisasikan zina tersebut dengan kemaluannya dan terkadang ia tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram sekalipun dekat dengannya.” (Syarhu Shahih Muslim, 16/206)
Ibnu Qayyim Al-Jau-ziyyah ber-kata: “Pandangan mata adalah asal dari seluruh peta-ka yang menimpa seorang insan. Dari pandangan mata melahirkan lintasan di hati. Lintasan di hati melahirkan pikiran, kemudian timbul syahwat. Dari syahwat lahir keinginan kuat yang akan menjadi kemantapan yang kokoh, dari sini pasti akan terjadi perbuatan di mana tidak ada seorang pun yang dapat mencegah dan menahannya. Karena itulah dinyatakan: “Bersabar menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya.”
Seorang penyair berkata:
Setiap kejadian berawal dari pandangan
dan api yang besar itu berasal dari
percikan api yang dianggap kecil
Berapa banyak pandangan mata itu mencapai ke hati pemiliknya
seperti menancapnya anak panah di antara busur dan tali busurnya
Selama seorang hamba membolak-balikkan pandangannya menatap manusia,
dia berdiri di atas bahaya
(Pandangan adalah) kesenangan yang membinasakannya, hunjaman yang memu-dharatkan.
Maka tidak ada ucapan selamat datang terhadap kesenangan yang justru mendatangkan bahaya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 234)
Dari penjelasan ringkas di atas, engkau wahai saudariku, telah tahu bahayanya mengumbar pandangan mata dan engkau pun tahu perintah Rabbmu dalam perkara ini. Maka apa lagi yang menahanmu untuk menahan pandangan matamu dari perkara yang haram? Jangan engkau berkata, aku cuma iseng, aku tidak me-masukkan ke hati dari apa yang aku lihat, aku tidak me-mikirkannya, dan sebagainya, dan sebagainya. Takutlah kepada Allah U yang telah berfirman:
“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat2 dan apa yang disembunyikan di dalam dada.” (Ghafir: 19)
Dan ingatlah engkau adalah hamba yang dhaif (lemah), siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa engkau akan selamat dari tergelicir kepada perkara yang nista?
Wallahu al-musta’an. Semoga Allah I menjaga kita semua. Amin…
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
sumber
Sabtu, 30 Juni 2012
Syaikh Ibnu Utsaimin di Mata Sang Istri
Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabat yang mulia, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan Ummu ‘Abdullah, istri Syaikh kita, Muhammad bin Saleh al-’Utsaimin (rahimahullah). Wawancara itu dilakukan oleh saudari Maha binti Husain Ash-Shammari dan dimuat dalam Majalah “Al-Mutamayyizah”, Riyadh, KSA, Edisi No. 45, Ramadhan 1427H.
1. Apakah ada perubahan motivasi Syaikh dalam hal menuntut ilmu, berdakwah, dan beribadah saat beliau masih muda dan setelah tua?
2. Apa yang Anda lihat yang menakjubkan dalam hidup Syaikh?
3. Bagaimana Syaikh berinteraksi dengan anak-anaknya dalam kehidupan pribadi mereka?
4. Mengapa Syaikh tidak menggunakan henna pada janggutnya?
5. Apa saja yang dapat memancing kemarahan Syaikh dan bagaimana beliau menghadapi kemarahan Anda?
6. Bagaimana cara beliau bangun dari tidurnya? Apakah beliau bergantung pada alarm jam, atau beliau meminta seseorang untuk membangunkannya?
7. Apakah Syaikh pernah pergi ke luar bersama keluarganya untuk piknik?
8. Bagaimana dengan puasanya Syaikh sepanjang tahun?
9. Bagaimana cara Syaikh memberikan nama pada anak-anaknya ?
10. Hal-hal apa yang dapat membuat Syaikh senang?
Ana dapat melihat tanda-tanda kesenangan dan kebahagiaan pada dirinya saat bertemu dengan cucunya. Jubahnya beliau buka sehingga cucunya dapat bersembunyi didalamnya kemudian menanyakan tentang mereka beberapa kali sebelum membukanya kembali, hal ini akan dilakukannya beberapa kali. Kemudian, beliau membawa mereka ke perpustakannya dimana beliau biasa menyimpan permen khusus yang mereka sebut sebagai “abooye halawat” (permen ayah saya). Kami pastikan mereka tak akan dapat menemukannya kecuali dengan bantuan beliau. Selain itu, walaupun jadwalnya sangat padat, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi cucu-cucunya di rumah mereka atau di rumah sakit jika salah seorang dari mereka sakit; ini akan berpengaruh besar pada mereka.
11. Syaikh memiliki berapa anak?
12. Siapa diantara anak-anaknya yang paling ia sayangi?
13. Siapa di antara anak-anaknya yang paling terpengaruh oleh kematiannya?
14. Siapa si anak bungsu?
15. Apa saja langkah-langkah yang dilakukan Syaikh dalam menuntut ilmu dan apa peran Anda di dalamnya?
Mengenai bantuan saya, hal itu diwujudkan dengan tidak mengalihkan perhatiannya dari menuntut dan menyebarkan ilmu. Saya melayaninya dan menyediakan baginya apa saja yang dapat mendukung usahanya itu. Saya juga memperhatikan anak-anak dan mengurus mereka kecuali dalam hal-hal yang membutuhkan perhatiannya sehingga beliau dapat langsung memberikan arahan, peringatan, dan mencari jalan keluar.
16. Bagaimana beliau membagi waktu antara dakwah, yang mengambil sebagian besar waktunya, dengan tanggung jawab keluarga dan sosial?
17. Apa yang menjadi kebijakannya mengenai pendidikan dan pengarahan pada anak-anaknya?
18. Mempertimbangkan pekerjaan Syaikh dan komitmennya, mau tak mau menyebabkan beliau sering berada jauh dari rumah dan keluarganya. Apa peran Anda dalam hal ini dan bagaimana Anda menutupi ketidakhadirannya?
19. Dapatkan Anda memberitahu kepada kami tentang ibadahnya di rumah?
20. Apa saja jadwal hariannya? Misalnya, ketika beliau tidur dan bangun, kapan beliau sarapan pagi, makan siang, dan makan malam?
Setelah bangun lagi, beliau akan sarapan dan kemudian menyelesaikan pekerjaannya dan bacaannya di ruang kerjanya. Beliau menunaikan shalat duhaa sebelum berangkat ke masjid untuk melakukan shalat Dzuhur. Setelah kembali, beliau akan makan siang bersama keluarga sekitar pukul 1:30 siang. Selanjutnya beliau akan menerima telepon sekitar 20 menit sebelum masuk waktu Ashar. Beliau beristirahat selama lima belas menit atau kurang dari itu sebelum pergi ke masjid untuk shalat Ashar dan bertemu dengan orang-orang yang membutuhkannya. Dia akan kembali ke ruang kerjanya setelah mengatasi kebutuhan masyarakat untuk membaca sebelum pergi ke masjid lagi untuk shalat maghrib dan mengisi ceramah hingga waktu shalat Isha. Biasanya beliau pulang setelah itu untuk makan malam yang ringan sebelum masuk ke ruang belajar untuk memberikan ceramah ke luar Kerajaan melalui telelink atau mengadakan pertemuan. Hampir seperti ini jadwal beliau di sebagian besar waktunya meskipun akan berubah di beberapa keadaan seperti bulan Ramadhan, Haji, dan liburan musim panas.
Juga ada beberapa jadwal mingguan, ini akan terjadi di rumah maupun di luar rumah. Beberapa jadwal mingguan meliputi Rabu malam melakukan pertemuan dengan para hakim, pertemuan dengan para imam untuk menjadwalkan khutbah Jum’at di masjid, pertemuan dengan para staf universitas dan para profesor, dan pertemuan dengan masyarakat hisbah (orang-orang yang memerintahkan kepada kebenaran dan melarang apa-apa yang salah) hingga pukul 11 atau 12 malam kemudian beliau beranjak tidur.
21. Bagaimana jadwalnya selama bulan Ramadhan terutama setelah waktu berbuka?
22. Dimana Syaikh suka menghabiskan waktunya untuk istirahat?
23. Berapa jam waktu tidurnya Syaikh dalam sehari?
24. Diantara siswanya, siapa yang paling dipujinya, sering disebut namanya, dan beliau senang atas kunjungannya?
25. Bagaimana keluarga menghadapi keshalehan Syaikh?
26. Apakah beliau menangis saat Syaikh Abdul Aziz bin Baaz wafat?
27. Apakah beliau pernah berpergian selain untuk tujuan menuntut ilmu?
28. Bisakah Anda memberitahu kepada kami tentang kemurahan hati Syaikh kepada orang-orang yang membutuhkannya?
29. Apa yang Anda pelajari dari Syaikh? Apakah Anda juga memperlajari fatwa? Apakah Anda pernah memberikan fatwa?
30. Sebelum beliau wafat, apakah beliau memberikan pesan-pesan terakhirnya untuk orang yang dikasihinya?
31. Kami ingin mendengar pesan dari Anda untuk para istri penelepon dan para penuntut ilmu.
32. Bisakah Anda memberitahu kami tentang cara Syaikh menerima tamu-tamunya?
33. Bagaimana dengan jarangnya dan senangnya beliau saat bertemu dengan anak-anaknya atau para tetangga?
34. Apa saran Anda terhadap kerusakan yang tersebar di kerajaan kita?
35. Apakah Syaikh ada meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang terasa aneh dan membuat Anda merasa ragu-ragu?
36. Hadiah apa yang diberikan Syaikh kepada Anda, anak-anaknya, dan orang-orang pada umumnya?
37. Apakah ada hal-hal yang indah yang dilakukan Syaikh dengan Anda yang pernah terjadi di masjid?
38. Kapan Syaikh melakukan perjalanan dakwah dan bagaimana Anda menangani situasi itu?
39. Bisakah Anda memberitahu kami tentang kegunaan internet bagi Syaikh saat pertama kalinya diperkenalkan di kerajaan?
40. Kapan Syaikh membeli mesin penjawab telepon otomatis?
41. Apakah Syaikh membeli surat kabar dan bagaimana beliau mengetahui tentang berita lokal dan nasional?
42. Apakah ada yang pernah menawarkan pada Syaikh untuk pindah ke Riyadh?
43. Selama kunjungan Raja Faisal (rahimahullah), Raja Khaled (rahimahullah), Raja Fahd (rahimahullah), dan pangeran lainnya, apa yang ditawarkan Syaikh buat mereka?
44. Apakah ada yang menawarkan untuk memasang instrumen echo pada mikrofon di masjidnya Syaikh?
45. Apakah Syaikh menikah dengan wanita lain selain Anda dan berapa banyak istrinya?
46. Kami butuh pesan dari Anda untuk orang-orang yang memiliki istri lebih dari satu.
47. Jika seseorang meminta seorang bapak (contohnya Syaikh) untuk menegur saya sebagai seorang gadis, apa yang Anda harapkan darinya?
48. Apakah Syaikh memberitahu Anda tentang Mujahid di Chechnya dan tempat-tempat laih terutama karena telah sampai pada kami berita tentang mereka dan Fatwa?
49. Bagaimana Syaikh menerima berita tentang penyakitnya dan bagaimana beliau memberitahukannya kepada Anda tentang hal itu?
50. Kami datang untuk mengetahui bahwa selama sakitnya Syaikh menolak untuk menyebut sakit kankernya sebagai “penyakit jahat” melainkan hanya menyebutnya sebagai berbahaya. Dapat Anda memberitahu kami tentang hal ini dan tentang kesabarannya?
Adapun tentang kesabarannya, ini terlihat dalam penyakitnya dan saya tahu bahwa beliau sangat menderita karena penyakitnya itu. Rasa sakit membangunkannya berkali-kali di malam hari, setiap kali beliau ditanya tentang hal itu, beliau akan memastikan bahwa beliau mengatakan rasa sakit itu hanya sebagai informasi bukan sebagai keluhan karena beliau tahu bahwa pahala bagi mereka yang sabar.
Segala puji bagi Allah dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabat yang mulia, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.
Catatan Kaki:
1. Merupakan nama dari dua anaknya.
2. Syaikh menyebutkan Nasyid Islami agar tidak membingungkan anak-anak kecil tersebut.
3. Diketahui bahwa Syaikh (rahimahullan) seperti para ulama lain yang dapat dipercaya di zaman kita, al-Albani, bin Baaz, serta Syaikh bin Shalih Al-Fauzan telah mengerahkan upaya yang besar untuk mengarahkan kaum muslim di negara ini dan negara lain atas realitas ini dan kondisi jihad dan memperingatkan mereka dari penyimpangan seperti terlihat dalam fatwa-fatwa yang mereka terbitkan dan saran.
Sumber: understand-islam.net diterjemahkan oleh Tim Shalihah.com. Sumber dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab
Minggu, 20 Mei 2012
Wanita Itu Dinikahi Karena 4 Hal
Rasulullah telah bersabda : ”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”
Karena Hartanya.
Harta itu adalah salah satu dari fitnah dunia, apabila harta telah di miliki oleh seseorang maka harta itu menjadi fitnah dan cobaan baginya, memilih istri hanya karena harta kekayaannya saja berarti dia telah memilih untuk memiliki fitnah dan cobaan, ditambah lagi istri itu sendiri adalah cobaan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
(Attaghabun, 64:14) : Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.),maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan berdamai (tidak memarahi) serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Firman Allah
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(64:15) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Maka Nabi menekankan kalian akan rugi, bila alasan menikahinya karena kekayaannya.
Harta itu bernilai nol, angka nol akan ada harganya kalau didepannya ada angka lain selain nol, angka lain itulah agama. Bila orang memiliki harta, harta itu haqiqinya sangat hina, lebih hina dibandingkan dengan bangkai anak kambing di padang pasir yang luas. Pada suatu hari Nabi berjalan dengan para sahabat, kemudian menemukan bangkai anak kambing, “Hai para sahabat tidakkah kau lihat bagkai anak kambing itu ?” kata Nabi, “Ya Nabi” jawab para sahabat, “Siapakah yang mau mengambil manfaat dari bangkai itu?” sambung Nabi, saat itu para sahabat tidak ada yg bergerak, “Ketahuilah bahwa gambaran dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing itu”, al hadits... Kalau seseorang bisa merubah harta itu lebih bermakna, maka berbahagialah dia, antara lain harta yang mereka miliki digunakan untuk jihad fisabilillah.
Jadi janganlah calon suami hanya memilih perempuan hanya semata-mata karena hartanya. Dijamin akan rugi.
Karena Kecantikannya
Allah berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
(Attaghabun, 64:3) : Dia Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia menjadikan rupamu dan Allah membuat bagus rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kamu kembali.
Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
(Ali Imran, 3:6) Dialah yang membentuk rupa kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Mulya lagi Maha Bijaksana dalam menghukumi.
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ - الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ -
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاء رَكَّبَكَ -
(Al Infithar, 82:6 , 7 , 8 )
Hai manusia, apakah yang telah mem perdaya kan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha mulya. - Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, -
Dalam bentuk rupa apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
Sebenarnya seluruh rupa manusia ini sudah sebaik-baiknya rupa. Maka janganlah memilih kecantikan wajahnya menjadi alasan memilih seorang istri.
Memilih kecantikannya saja tanpa melihat agamanya, dijamin kecantikan itulah yang akan mengakibatkan bencana. Wajah dibuat oleh Allah tidak untuk mengangkat derajat orang sesuai dengan dalil : ” Allah tidak memandang rupa kalian dan harta kalian, melainkan Allah memandang hati kalian dan amal kalian”.
Karena Keturunannya.
Firman Allah :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
(Attiin, 95:4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Orang dilahirkan ke bumi itu tidak bisa memilih suku apa, keturunan siapa dan bagaimana warna kulit, rupa dan bentuk fisiknya. Namun secara garis besar semua manusia dibuat dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Sebagian besar orang arab saat itu, betul-betul menjadikan keturunan sebagai patokan derajat manusia. Bila setelah perkimpoian terjadi, ternyata diketahui derajat suku dan keturunan suaminya itu lebih rendah dari yg mereka lihat maka keluarga si perempuan berusaha agar bercerai, dengan alasan derajatnya berbeda. Bahkan di sebagian jazirah arab binatang kuda pun dicatat dari keturunan apa. Betul-betul tidak boleh dikimpoikan dengan kuda sembarangan, karena nanti mengakibatkan adanya keturunan yang kurang bermutu. Tetapi untuk manusia haqiqi nya beda, mutu manusia itu adalah dari keimanan dan ketakwaanya.
Allah Berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
(AlHujuraat, 49:13) : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada.
Bila ada seorang laki-laki mendapatkan istri dari keturunan suku yg mereka anggap tinggi maka ia merasa bangga dan merasa derajatnya ikut naik, padahal
firman Allah :
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
(Al an’am, 6:132) : Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lupa dari apa yang mereka kerjakan.
Saya pernah dialog dengan salah satu orang Yaman di Masjidil haram, yang warna kulitnya coklat agak gelap...Saat ada perempuan Yaman melintas, laki-laki Yaman yg saya ajak dialog mengatakan “Ini adalah salah satu dari suku kami di Yaman”, ...orangnya tinggi, putih, cantik. Kemudian ia saya tanya “Kenapa kamu dulu tidak menikahi yang seperti itu ?”, “O... tidak bagus karena suku saya kulitnya agak coklat tua, jadi adat kami menilai itu kurang baik karena nantinya bila memiliki keturunan tidak asli dari suku kami”, jawabnya.
Saya juga pernah dialog dengan salah satu orang India, saya Juga tanyakan padanya “Kenapa anda tidak menikahi orang selain India ?”, “Wah tidak baik itu.., karena anak saya nanti “belang” tidak asli India. Kalau tidak asli India nanti orang India yang lain tidak mau kimpoi dengan anak saya yang “belang” itu , jawabnya.
Inilah salah satu alasan orang mencari istri di lihat dari sisi nasabnya. Namun nasab pun akan membawa bencana bila tidak didasari agama.
Karena Agamanya.
Inilah elemen paling baik, paling pantas sebagai alasan seseorang menikahi seseorang. Kalau menikahi wanita karena agamanya maka akan beruntunglah kalian, kalau tidak rugi besar kalian. Jangankan orang yang baru akan membangun rumah tangga, bagi yang akan rujuk saja syarat agama harus dipenuhi.
Langganan:
Postingan (Atom)

